Mitos otak kiri versus otak kanan

SarjanaBlogger - Teori ini mulai dikenal sejak tahun 1973. Seorang ahli neurosains bernama Roger Sperry beserta koleganya, Michael Gazzanega melakukan penelitian tentang epilepsi. Mereka meniliti fungsi hemisphere manusia dengan membelah bagian corpus collosum. Corpus collosum ini bahasa simple nya adalah jembatan antara otak kiri dan kanan. Nah, tes nya cukup simple juga sih. Bagaimana kalau jembatan ini dilepas? Apakah kedua otak tersebut punya peran sendiri-sendiri?


Akhirnya penelitian pun dilakukan pada 16 sukarelawan. Mereka dingangkat bagian Corpus Collosum nya dan diminta untuk melihat objek-objek tertentu semisal kunci. Dari tes ini mereka menyimpulkan bahwa bahasa dan kalkulasi sepertinya dikerjakan otak kiri sedangkan otak kanan lebih fokus pada penalaran. Berkat sumbangsihnya inilah Sperry bisa meraih Nobel.

Seiring dengan kesuksesan Sperry ini, media-media pun memberitakan pencapaiannya. New York Times menulis pada headline mereka “We are Left-Brained OR Righ-Brained”. Tentu judul ini sedikit bertentangan dengan fakta yang ada. Hasil penelitian Sperry hanya menyimpulkan bahwa otak kiri fokus bahasa dan otak kanan sebagai penalaran. Kemudian media-media lain pun ikut2an menyampaikan berita ini. Secara tidaklangung, berita-berita ini seakan menguatkan bahwa otak kiri dan kanan memang punya peran masing-masing.

Hingga akhirnya para ahli psikologi pun menggunakan hasil penelitian Sperry tersebut sebagai bahan kajian tentang kepribadian seseorang. Mereka mulai bertanya-tanya, manakah yang lebih dominan diantara keduanya? Teori tentang otak kiri dan kanan pun muncul. Jadilah saat ini sebagian dari kita percaya bahwa “otak kiri logis, otak kanan kreatif”. Dan parahnya, sebagian dari kita sekarang mulai mengklompokkan diri kita berdasarkan apakah kita si otak kanan, atau si otak kiri?