Tradisi Menato Wajah Wanita Myanmar

SarjanaBlogger - Perempuan-perempuan ini dikenal dengan julukan The Chin. Mereka kebanyakan bermukim di kawasan Chin, Rakhine, dan Arakan bagian utara.

Asal tato wajah di wilayah ini tidak diketahui. Tetapi beberapa percaya bahwa praktik ini bermula sejak pemerintahan raja terdahulu. Tujuan menato wajah diduga agar saat desa mereka diserang, wanita yang wajahnya ditato terlihat jelek sehingga terhindar dari perbudakan.


Selama bertahun-tahun, akses ke area suku Mindat tersebut dibatasi oleh pemerintah Burma. Akses ke sana baru dibuka dua tahun lalu dan hanya diperbolehkan 700 wisatawan yang berkunjung ke sana tiap tahunnya.

Para wanita ini memiliki beberapa pola tato di wajah yang berbeda-beda. Tato jaring laba-laba adalah tato yang populer di wilayah Mrauk U. Tato ini biasanya disertai dengan lingkaran di tengah dahi yang melambangkan matahari atau garis bawah hidung yang melambangkan kumis harimau.


Desain lain yang dikenal sebagai pola lebah, lebih umum di daerah Mindat. Tato ini terdiri dari titik-titik, garis, dan sesekali lingkaran. Kebanyakan tato ini ditemui pada suku Muun yang mendiami perbukitan wilayah Arakan.

Sementara wanita dari suku U Pu, sangat jarang ditato di seluruh wajahnya. Diduga saking langkanya, hanya dua orang wanita yang ditato penuh wajahnya. Suku-suku tersebut biasanya membuat jarum tato dengan mengikat tiga potongan bambu tipis atau menggunakan duri. Sementara tinta tato mereka buat dengan mencampur empedu sapi, jelaga, tanaman, dan lemak babi.